Saatnya Kopi Agam Go Internasional

Bupati Agam Indra Catri, Dt Malako Nan Putiah, menjadi narasumber dalam acara “Monthly Hight Tea Bussines Network, Talk Show Ngopi Bareng Senator” bertema kopi daerah Indonesia, kopi dunia, di gedung Plaza Nusantara V MPR-DPD RI, Jakarta, Rabu, (14/3).

JAKARTA, SAHKATO — Bupati Agam Indra Catri, Dt Malako Nan Putiah, menjadi narasumber dalam acara “Monthly Hight Tea Bussines Network, Talk Show Ngopi Bareng Senator” bertema kopi daerah Indonesia, kopi dunia, di gedung Plaza Nusantara V MPR-DPD RI, Jakarta, Rabu, (14/3).

Hadir pada kesempatan itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Edi Ganefo, Sekjen DPD, Makruf Amin, Ketua Asosiasi Eksportir Kopi, Hutama, Wakil Ketua DPD RI Letjen (pur mar) DR. Nono Sampono, Kanselor Swedia Claudia dan beberapa duta besar lainnya.

Bupati Agam merupakan satu-satunya kepala daerah sebagai pembicara pada acara yang bertajukan Kopi Senator bertaraf Internasional itu. Dalam forum internasional itu, materi yang disampaikan orang nomor satu di Agam itu berjudul “Ameh Hitam dari Agam”. Bupati Agam Indra Catri, menjelaskan berbagai keunggulan kopi robusta dan kopi luwak yang memiliki keunggulan cita rasa istimewa yang sudah menembus pasar Internasional.

“Kopi robusta dan arabika sangat diminati oleh konsumen, tidak hanya regional tapi internasional, karena memiliki cita rasa aroma khas dengan perisa kompleks dan kekentalan yang kuat,” kata bupati didampingi Kepala Bappeda, Welfizal.

Di hadapan para duta besar, bupati menggambarkan prospek kopi Arabika dan kopi Robusta yang semakin gencar menembus pasar baik tingkat regional maupun internasional. Kopi arabika dan robusta. Perbedaan di antara kedua varietas ini terutama terletak pada rasa dan tingkat kafeinnya. Biji arabika, lebih mahal di pasar dunia, memiliki rasa yang lebih mild dan memiliki kandungan kafein 70% lebih rendah dibandingkan dengan biji robusta.

Meskipun permintaan cukup tinggi, namun tren produksi kopi di Kabupaten Agam masih menggunakan pola produksi tradisional dan konvensional sehingga belum banyak yang mencapai target speciality. Namun, seperti Kopi luwak organik dari Kecamatan Palupuh sudah memiliki sertifikat dari sucofindo. “Kita sudah melakukan peningkatan kualitas petani melalui pembinaan dan bimbingan teknis, namun hal itu belum cukup. Maka peranan dari berbagai pihak yang ingin mendorong peningkatan kesejahteraan petani kopi juga sangat besar,” ujarnya.

Saat ini, tercatat sebanyak 3.394 hektar lahan budidaya kopi dengan beragam jenis. Terdapat lima kecamatan di Kabupaten Agam dijadikan sebagai sentra kopi, yaitu Kecamatan Tanjung Raya Sibarasok yang terkenal dengan kopi robustanya. Keistimewaannya adalah cara pengolahannya masih alami. Kemudian, di Kecamatan Canduang terdapat kopi arabika yang memiliki spesiality arabika yang ditanam di ketinggian 1.500 mdpl harganya pun terbilang mahal.

Begitu juga di Kecamatan IV Koto terkenal dengan kopi lereng gunung merapi. Kopi jenis arabika berada di kaki Gunung Singgalang Nagari Balingka pada ketinggian 1.280-1.400 mdpl. Lalu untuk Kecamatan Palupuh dan Kecamatan Palembayan juga familiar dengan kopi luwaknya, telah menembus pasar Internasional. Seperti, Belanda, Korea, Thailand dan Amerika.

“Selain itu, perkebunan kopi yang menjadi mata pencaharian masyarakat juga berada di luar kawasan hutan, sehingga fungsi hutan untuk kelestarian lingku­ngan tetap terjaga dengan baik,” tambahnya.

Terkait kehadirannya sebagai keynote speaker, bersama dengan Bupati Aceh Selatan, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Bupati Toraja Utara, mengutarakan bahwa, moment ini sangat penting dalam mempromosikan sekaligus meviralkan potensi kopi asal Kabupaten Agam di kancah Internasional.

Menanggapi hal itu, Ketua KADIN, Edi Ganefo, mengatakan banyak kopi yang berasal dari Indonesia tapi bermerk asing. Hal itu menandakan bahwa kopi dari Indonesia memang unggul dan bagus. Untuk itu, pihaknya meminta, ke depan tiap-tiap daerah harus pemantapan kualitas produk, sehingga agar bisa diterima dipangsa pasar. Untuk tata cara ekspornya PT.POS sudah membuka pintu, cukup siapkan barang kemudian antar ke PT.POS,” tegas Edi Ganefo menegaskan.

Hal senada juga ditanggapi oleh, Wakil ketua DPD RI Letjen (pur mar) DR. Nono Sampono. Ia berharap, kegiatan talk show ngopi bareng tidak hanya jualan kopi, tapi untuk menjual potensi daerah kepada publik, karena kopi daerah Indonesia adalah kopi dunia. “Indonesia peringkat 3 dunia dalam produksi kopi. Untuk itu mari kita besarkan para pelaku ekonomi agar mereka tetap eksis dan Indonesia tetap menjadi pusat peradaban,” ajaknya. (rel/nka)

Comments

comments

Leave a Comment