Menelisik Kehidupan Gay Penderita HIV di Sumbar

Menelisik Kehidupan Gay Penderita HIV di Sumbar
Menelisik Kehidupan Gay Penderita HIV di Sumbar

PADANG, SAHKATO

Dari 200 orang pasien HIV di tahun 2017 yang berobat di RSUP Jamil Padang, 122 orang diantaranya adalah Lelaki Seks Lelaki (LSL).  Dari total 200 orang penderita HIV tersebut, Kota Padang memiliki penderita HIV sebanyak 84 orang, dan disusul Kabupaten Padangpariaman yang berjumlah 28 orang.

Terjadi peningkatan sebanyak 34 persen jika kita bandingkan dengan tahun 2016 yang lalu yang berjumlah 166 orang penderita HIV di Sumbar. Untuk pederita HIV dari hubungan LSL terjadi peningkatan dari tahun 2016 yang berjumlah 57 orang.

Menurut Dr.H. Armen Ahmad, SpPD, KPTI FINASIM yang merupakan Kepala Poliklinik HIV RSUP DR. M Djamil Padang peningkatan ini disebabkan oleh mulai tingginya tingkat individualisme pada masyarat di Sumbar pada saat ini, ditambah mudahnya masyarakat khususnya pelajar yang tergerus budaya westernisasi.

“Penyebaran “virus” LGBT dapat melalui hubungan pertemanan melalui media sosial, pertemanan di sekolah, pertemanan di kampus, sehingga lingkungan apalagi keluarga inti harus berperan penting dalam menghambat pertumbuhan virus LGBT in,”ucapnya.

Dr.H. Armen Ahmad, SpPD, KPTI FINASIM memberikan kesempatan mewawancarai seorang Gay penderita HIV di kliniknya. Hal ini dilakukan oleh Armen untuk menciptakan kesadaran pada masyarakat bahwa hubungan dari LGBT rentan terkena virus HIV.

Sebut saja namanya Sulan (32). Alumni dari sebuah perguruan tinggi  di Padang. Sulan mengaku, menikmati hubungan gay sejak datang ke Padang dan memasuki bangku kuliah pada tahun 2003. Hingga dirinya akhirnya insaf ketika virus HIV menggerogoti tubuhnya.

“Awalnya, ketika aku tertidur lelap.  Kemaluanku (maaf) di hisap oleh teman yang kukenal melalui jejaring sosial di kamar kost ku bang,” ucap Sulan memulai ceritanya.

Malam itu, adalah awal kisah hidupnya tertarik dengan pasangan sejenis (gay). Pada saat itu teman yang baru dikenalnya menumpang tidur di kost Sulan.  Ketika Sulan tidur dengan lelapnya, temannya itu membuka celana Sulan dan “mengerjai” kelamin Sulan.

“Saya terbangun, dan ingin teriak. Tetapi takut membangunkan seluruh penghuni kost. Jadi saya biarkan saja dia melakukan sehingga saya mencapai titik organisme,” ucap Sulan di ruang praktek  Dr.H. Armen Ahmad, SpPD, KPTI FINASIM (15/2).

Sulan membeberkan sejak saat itu hubungan yang seperti itu terus berlanjut dan lebih intens ke hubungan badan dengan “pasangannya” yang berprofesi sebagai pedagang pakaian kaki lima di Pasar Raya.

“Pada saat berhubungan saya bertindak sebagai “laki-laki” yang disebut “Top” dan yang berperan sebagai perempuannya disebut “Both”. Selama menjalani kehidupan sebagai Gay saya telah berganti-ganti pasangan sebanyak tiga kali, dan saya tidak tahu siapa yang menularkan HIV ini kepada saya.” Tambahnya.

Hingga suatu waktu, Sulan mengalami sakit dan berobat ke RSUP M Jamil Padang. Pada saat itu Sulan tervonis pengidap HIV positif. Seperti penderita HIV yang lain, Sulan mengalami rasa ketakutan yang mendalam. Takut diasingkan keluarga dan lingkungan dan takut akan kematian.

Semenjak 2006 Sulan mengakhiri petualangan seks nya. Pria yang mengaku dari Kabupaten Pessel ini mengatakan setelah menamatkan pendidikan di bangku kuliah dan menjadi sarjana, sangat  membutuhkan waktu untuk jujur kepada keluarga. “Pada saat ini keluarga inti saya telah mengetahui penyakit yang saya alami” ucapa anak ke-2 dari lima saudara ini.

Perlahan-lahan kehidupan Sulan mulai membaik, walau tidak bisa sembuh secara total tapi Sulan bersyukur bisa bertobat. “Saya pada saat ini datang ke Padang sekali dalam sebulan untuk sekedar kontrol ke Pak Armen,” ucap Sulan yang saat ini berprofesi sebagai pedagang kebutuhan harian di kabupaten Pesisir Selatan.

Dr.H. Armen Ahmad, SpPD, KPTI FINASIM menambahkan, untuk setiap kasus HIV positif yang terdeteksi dianggap terdapat 100 orang yang sudah terinfeksi tetapi belum terdeteksi. Beliau menjelaskan, bahwa penyebaran virus HIV dapat melalui hubungan seksual, tranfusi jarum suntik yang terifeksi, tranfusi darah, bayi dari ibu HIV, serta air susu dari ibu yang terjangkit virus HIV.

“Cairan yang dapat menularkan HIV adalah, darah, ASI, sperma, cairan kemaluan wanita,cairan dubur. Dan untuk diketahui para korban HIV sebaiknya dirangkul dan dimotivasi karena virus HIV tidak dapat disebarkan melalui keringat, air mata dan air ludah,” ucapnya.

Pemerintah sebaiknya mengambil peranan penting dengan menggandeng tokoh-tokoh agama dalam menghambat penyebarat prilaku seks menyimpang melalui LGBT sehingga menghambat atau menutup penyebaran HIV ini.

Armen menambahkan sebaiknya jika ingin berkeluarga alangkah baik calon pasangan harus melakukan tes HIV dahulu sebelum memutuskan berumah tangga. Masih menurut Armen, tes HIV adalah salah satu cara untuk melihat seseorang itu terbebas dari virus HIV.

“Orang HIV terlihat sehat dan merasa sehat, dan tidak mengetahui bahwa dirinya terindikasi virus HIV. Tes HIV adalah suatu cara untuk membuktikan seseorang itu tidak terjangkit HIV. Selain itu dalam memandikan jenazah sebaiknya menggunakan sarung tangan, karena kita tidak tahu apakah si mayit adalah penderita HIV atau tidak.” ucapnya.(ktk)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.