Mahasiswa dan Warga Antusias Lepasliarkan 200 Tukik

Mahasiswa dan warga lepasliarkan tukik dari bibir Pantai Pasie Jambak Padang, Sabtu sore, (10/11) pukul 17.00 WIB.

PADANG, SAHKATO–Sebanyak 200 ekor tukik (anak penyu) lekang dan hijau telah berpindah dari tempat penetasan ke dalam dua buah baskom besar yang telah disiapkan Pati Hariyose dari Jambak Sea Turtle Camp. Tukik tersebut dilepasliarkan dari bibir Pantai Pasie Jambak Padang, Sabtu sore, (10/11) pukul 17.00 WIB.

“Tukik-tukik ini hasil penangkaran kami, dan akan dilepasliarkan sore ini,” ucap Yose kepada masyarakat yang menggerubuti Yose saat memindahkan tukik-tukik tersebut kedalam baskom.

Puluhan mahasiswa dari STKIP PGRI Sumbar dan masyarakat yang sengaja turut serta dalam kegiatan pelepasliaran tukik tersebut, menggerubuti baskom hitam yang di penuhi tukik-tukik tersebut. “Saya baru kali ini melihat tukik”, ujar Rina salah seorang pengunjung Jambak Sea Turtle Camp yang berlokasi di Pantai Pasie Jambak Padang.

Sore itu, suasana Pantai Pasie Jambak kembali tenang. Tidak ada gulungan-gulungan ombak besar yang terus mengikis bibir pantai seperti hari-hari sebelumnya. Mentari yang perlahan terbenam di ufuk barat memberikan pertanda bahwa sudah waktunya tukik-tukik itu dilepas.

Puluhan mahasiswa STKIP PGRI Sumbar beserta staff dosen mulia berdiri memanjar. Yose dan Tim Sea Turtle Camp mulai meletakkan beberapa kelompok Tukik di bibir pantai.

Setelah berada di bibir pantai, tukik-tukik tersebut secara insting langsung berpacu menuju lautan. Tepuk tangan mahasiswa dan masyarakat bergemuruh. Suka cita akan melihat tukik yang sukses di lepas liarkan terlihat dari wajah Yose panggilan akrab dari Pati Hariyose. “Sampai jumpa kawan, semoga bertemu 35 tahun yang akan datang,” ucapnya melalui pengeras suara yang di sambut tepuk tangan masyarakat.

Ya, pelepas liaran tukik adalah kegiatan rutinitas yang di lakukan Yose melalui Jambak Sea Turtle Camp. Telur-telur penyu didapatkan Yose dari pantai Pasie Jambak yang didarati penyu untuk bertelur serta pulau-pulau di sekitar Pantai Pasie Jambak. “Penetasan penyu ini sengaja di buat, untuk menggugah kesadaran masyarakat, serta menjadikan daerah pantai Pasie Jambak menjadi daerah kunjungan ekowisata,” ucapnya.

Selain itu, Yose menjelaskan, dengan ramainya Pantai Pasie Jambak ini dengan kegiatan lepas liar tukik, tentu berdampak kepada perekonomian masyarakat di sektor wisata. “Dengan kegiatan pelepasliaran tukik ini di harapkan ekonomi masyarakat terbantu, serta dengan ramainya pantai pasir jambak akan meminimalisasi pengunjung dalam melakukan aksi mesum di sudut-sudut pantai”, tambahnya.

Jaenam M.Pd, Ketua program studi PPKN dari STKIP PGRI Sumbar yang turut hadir mendampingi mahasiswa STKIP dalam kegiatan pelepasliaran tukik menjelaskan, kegiatan pelepasliaran tukik ini merupakan salah satu agenda dari STKIP PGRI Sumbar dalam hal menjaga kelestarian lingkungan hidup khususnya penyu.

“Dengan kegiatan pelepasliaran penyu di harapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan perkuliahan kedalam aksi nyata dalam menjaga, melindungi penyu yang telah dijadikan binatang yang dilindungi”, ucapnya.

Penyu adalah spesies yang telah hidup di muka bumi sejak jutaan tahun yang lalu dan mampu bertahan hingga kini. Penyu adalah satwa migran, seringkali bermigrasi dalam jarak ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan tempat bertelur.

Penyu menghabiskan waktunya di laut tapi induknya akan menuju ke daratan ketika waktunya bertelur. Induk penyu bertelur dalam siklus 2-4 tahun sekali, yang akan datang ke pantai 4-7 kali untuk meletakan ratusan butir telurnya di dalam pasir yang digali.

Setelah 45 – 60 hari masa inkubasi, tukik (sebutan untuk anak penyu) muncul dari dalam sarangnya dan langsung berlari ke laut untuk memulai kehidupan barunya.

Beberapa ahli mengatakan dari 1000 tukik hanya akan ada 1 tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Tingkat keberhasilan hidup penyu sampai usia dewasa sangat rendah, para ahli mengatakan bahwa hanya sekitar 1-2 % saja dari jumlah telur yang dihasilkan.

Tukik yang telah bertumbuh menjadi penyu dewasa (usia 35-40 tahun) akan kawin kemudian bertelur di pantai yang sama sebanyak 3 hingga 7 kali dalam satu periode peneluran. Tukik-tukik kecil yang baru akan menetas dua bulan setelahnya dan harus melalui pengalaman yang sama seperti yang seperti dialami oleh induknya terdahulu.(ktk)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.