Edriana, SH, MA, Aktivis Perempuan yang Memilih Terjun ke Dunia Politik

Edriana, SH, MA

PADANG, SAHKATO–Keberanian seorang aktivis perempuan, Edriana, SH, MA untuk terjun ke dunia politik, tidak terlepas dari keinginannya untuk membantu masyarakat, dan memperjuangkan lahirnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang berdampak langsung terhadap perempuan.

“Jalur politik sangat strategis untuk membantu masyarakat dalam mengatasi persoalan sosial. Termasuk persoalan yang dihadapi perempuan saat ini. Saya lakukan segala daya upaya untuk berhasil memenangkan konstilasi politik,” ungkap perempuan yang juga sebagai konsultan gender di beberapa kementerian dan lembaga donor ini, kemarin.

Perempuan yang sedang menyelesaikan studi program Doktor Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI) ini mengatakan, keinginannya terjun ke dunia politik, tidak hanya sekedar memenuhi kuota 30 persen perempuan saja. Tetapi, Alumni SMAN 2 Padang ini menegaskan, jalur politik merupakan dunia yang harus dijalani. Pasalnya, aktivis jika berada di luar struktur pemerintahan, tidak punya “pisau” untuk menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat.

“Saya kembali ke Ranah Minang untuk mewakafkan diri dan pikiran untuk pembangunan di negeri ini,” tegas perempuan yang sudah melanglang buana memberikan pelatihan dan tampil sebagai pembicara pada konferensi internasional di berbagai negara ini.

Menurut Alumni Fakultas Hukum UI ini, saat ini terdapat ketimpangan pemilih laki-laki dan perempuan di Sumbar. Dari sekitar 3.477.000 lebih pemilih di Sumbar, sekitar 1.710.000 adalah pemilih laki-laki dan 1.766.000 pemilih perempuan. Artinya jumlah pemilih perempuan lebih banyak di Sumbar.

“Dengan jumlah pemilih perempuan yang lebih besar, seharusnya apa yang menjadi kebutuhan dan permasalahan perempuan diperjuangkan di legislatif,” terang perempuan asal Tanjuang, Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar ini.

Persoalan yang dihadapi perempuan saat ini sangat komplek. Sementara, alokasi anggaran untuk mengatasi berbagai permasalahan perempuan masih rendah. Perempuan yang aktif menulis ini mengungkapkan,  saat ini, masih tingginya angka ibu melahirkan yang meninggal.

Termasuk juga bayi yang baru lahir meninggal. Permasalahan ini terjadi karena ibu usia yang masih muda, rentan mengalami pendarahan saat melahirkan. Sementara, akses fasilitas kesehatan masih sangat minim. Selain itu, saat ini proses persalinan yang dibantu tenaga kesehatan baru mencapai 80,30 persen. “Sebagai aktivis dan konsultan tentu saya bicara ini berbasis data yang akurat,” terangnya.

Permasalahan lainnya, baru 30 persen anak-anak yang mengikuti pendidikan PAUD. Selain itu, masih banyak anak-anak yang putus sekolah, baik itu putus SD hingga SMA. Padahal, 20 hinga 30 tahun mendatang persaingan tenaga kerja sangat ketat dengan negara lain. “Dengan kompetisi lapangan kerja yang ketat, maka seharusnya pendidikan anak harus dipersiapkan sejak usia dini,” ungkapnya.

Selain memperjuangkan isu kesehatan dan pendidikan, Edriana mengungkapkan, dirinya juga akan fokus untuk memperjuangkan mengatasi permasalahan lingkungan penggundulan hutan (deforestasi). “Tingkat penggundulan hutan di Sumbar masih sangat tinggi. Ada 20.000 hektar per tahun. Akibat penggundulan hutan ini lahan kritis di Sumbar sangat tinggi. Ini menjadi fokus perjuangan saya nanti,” ungkap Direktur Program di Women Research Institute (WRI) ini.

Persoalan lingkungan lainnya yang menjadi perhatian Edriana, yakni terkait masalah sosial masyarakat menyangkut infratsruktur. Salah satunya sanitasi layak. Saat ini, masih terdapat 23 persen masyarakat MCK di sungai. “Ini menjadi perhatian saya untuk memperjuangkan sanitasi yang layak untuk masyarakat,” terangnya.

Edriana menegaskan, dengan memberanikan diri maju pada pertarungan pileg nanti dan dengan kapasitas yang dimilikinya, dirinya bertekad hadir tidak sekedar parami alek. Tetapi manjapuik peruntungan. “Jihad politik ini, akan dan harus saya lakukan untuk terpilih sebagai anggota legislatif,” ungkap Edriana dengan penuh semangat.(sar)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.